Sat. Jan 17th, 2026
Asupan Cerita Dewasa
Hmm, kisah ini terjadi di tahun 2025. Usia saya boleh dibilang masih cukup muda untuk mengenal yang namanya sex. Tetapi apa mau dikata, karena sex itu enak maka saya menjadi ketagihan. Anyway, kembali ke cerita saya.
Saya mempunyai seorang temen cewek, sebut saja namanya Reffa. Dari postur tubuhnya boleh dijamin semua laki-laki yang melihatnya pasti akan tergiur untuk mencicipinya. Reffa mempunyai tinggi kurang lebih 165 cm, 47 kg dan menggunakan bra ukuran 34B (hal itu saya ketahui ketika saya ml sama dia), dan kulitnya kuning langsat. Dengan wajah layaknya cewek kampus, dan tidak terlihat sama sekali kalau dia juga seorang pecinta sex bebas, sama seperti saya.
Beruntung saya memiliki wajah dan badan yang cukup lumayan, sehingga saya tidak mengalami kesulitan dalam mencari teman untuk melepas birahi, apalagi ditambah dengan ukuran saya yang boleh dibilang lebih dari rata-rata. Wajar saja kalau teman cewek saya rajin mengontak saya disaat mereka butuh dan begitupun juga sebaliknya.
Suatu hari, Reffa menelpon saya. Dia cerita bahwa dia punya teman kost baru, dan cakep pula. Dia juga bilang kalau temannya itu mirip artis ternama di ibukota, yang namanya sudah terkenal. Dia janji mau mengenalkan saya ke dia. Maka kemudian saya dan Reffa membuat suatu janji pertemuan di hari Sabtu.
Pada hari yang telah di janjikan, saya telah membuka sebuah kamar di daerah Juanda, dan seperti yang telah direncanakan, Reffa datang membawa seorang temannya yang bernama Melani.
“Tok.. tok.. tok..!” 3 kali saya dengar ketokan pintu, maka secara otomatis saya membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka, terlihatlah Reffa yang sedang tersenyum kepada saya, dan di belakangnya tampak temannya yang akan dikenalkan ke saya. Dan benar saja, temannya itu menang benar mirip sekali dengan artis ibukota yang Reffa ceritakan.
“San, kenalin donk… ini loh temen gue yang gue mau kenalin ke elu.” begitu ucap Reffa sambil masuk ke kamar.
“Oh iya, gue Melani… dan elu sapa..?” sapanya ramah.
Saya sempat terdiam sewaktu Melani menjulurkan tangannya, karena saya tidak habis pikir kalau cewek ini begitu cantiknya, dan saya harus dapat mencicipinya hari ini juga.
“Hmm, nama gue A..” begitu saya sadar, langsung saya merespon dengan julurkan tangan.Hmm, kulitnya halus juga, pikir saya. Kalau dari yang saya lihat, Melani ini sedikit lebih pendek dari Reffa, tetapi dia mempunyai buah dada yang lebih besar daripada Reffa. Kira-kira tingginya 160 cm, 45 kg, dan saya rasa ukuran dadanya 34C, soalnya dadanya besar sekali.
“Eh, loe berdua jangan diem gitu donk, kasih gue minum kek..!” tiba-tiba suara Reffa memecahkan kesunyian yang ada.
“Oh iya, sori Reff, tuh loe ambil aja deh di kulkas..!” jawab saya sekenanya.
“Gini..,” kata Reffa. “Temen gue Melani ini seorang janda anak satu, tapi loe pikir deh, umurnya baru 23 dan body-nya masih segini, ngga kecewa donk loe gue bawain yang kaya gini.” lanjut Reffa lagi.
“Ah elu bisaan aja Reff,” sahut Melani dengan tersipu, sehingga tampaklah wajahnya yang sedikit memerah.
Aduh.., ini membuat saya jadi horny saja.
Tiba-tiba saja Melani menarik Reffa ke kamar mandi.
“Ikut gue bentar deh Reff..!” kata Melani.
Lalu Reffa dengan terburu buru juga ikut dan sambil bicara kepada saya, “Dah loe tiduran aja dulu di ranjang, temen gue mau bilang sesuatu kali nih ke gue.”
Tidak lama mereka keluar dari kamar mandi.
“Eh sori yach tadi sempet bikin loe kaget.” kata Melani.
“Eh, ngga apa-apa kok.” jawab saya masih bingung.
“Emangnya kenapa sih tadi..?” saya masih bingung.
“Udah deh loe ngga usah tau, urusan perempuan kok barusan, yang penting sekarang loe santai aja di ranjang loe dan ikutin permainan gue.” timpalnya lagi.
“Wah-wah-wah, permainan apa lagi nih..?” pikir saya dalam hati.
Tapi saya sudah senang sekali, apalagi saya melihat Reffa tersenyum nakal ke arah saya. Duh, saya jadi tambah horny saja deh.
“Sebelum gue kasih loe ijin, jangan sekali kali loe sentuh gue, ok..?” kata Melani.
“Ok-ok deh..,” jawab saya meskipun saya masih agak bingung dengan arah permainannya.
Tiba-tiba saja Melani langsung mendekati ke ranjang dan segera menciumi saya di bibir. Yach sudah otomatis saya akan merespon juga donk. Lidah kami saling ‘bergerilya’, sedangkan saya hanya boleh telentang saja di ranjang. Kemudian ciuman Melani turun ke leher saya, hm.. enaknya pikirku. Dijilatinnya leher saya, terus dia juga menjilati kuping saya.
Tanpa sadar saya mendesah, “Ahh, enak, Melani, terusin dong..!”
“Sekarang gue bukain baju loe, tapi inget..! Tangan loe tetep diam aja yach, jangan sentuh gue sebelum gue kasih ijin..!” sahutnya lagi.
“Aduh sengsara banget nih..! Masa mau ml tapi tangan gue ngga boleh megang-megang sih..!” pikir saya dalam hati.
Dengan cepet Melani membuka baju saya dan langsung dilempar. Dengan sigapnya Melani langsung bergerilya di dada saya, bagaikan seseorang yang lama tidak mendapatkan tubuh laki-laki. Digigitnya kedua puting saya.
“Ahhh, enak gigitan loe,” saya mendesah pelan.
Samar-samar saya melihat Reffa duduk di samping saya sambil memperhatikan wajah saya dan dia tersenyum.
Tanpa sadar tangan saya mencoba mencari buah dada Melani untuk saya remas-remas. Eh tanpa saya duga, tiba-tiba saja tangan saya ditepis oleh Melani dan Reffa.
“Gue kan udah bilang, kalo belum gue kasih ijin jangan sentuh gue..!” kata Melani.
“Iya, loe tuh gimana sih..?” kata Reffa, “Ikutin donk permainannnya Melani..!” lanjut Reffa.
“Yach habis gimana donk..? Namanya juga reflek..!” timpal saya sambil mendesah dan agak kecewa.
“Pokoknya loe sabar deh..!” kata Melani sambil membuka celana saya.
“Hmm.., cd model low cut dengan warna hitam nih..!” ujar Melani sambil bergumam sendiri.
“Loe tau aja kesukaan gue..!” kata Melani, “Dan loe seksi banget dengan cd warna gini, bikin gue horny juga tau..!” kalimat Melani yang terakhir sebelum dia mulai ber-’karaoke’.
“Oohh, enak, sedot lagi donk yang kuat Melani..!” kata saya sambil mendesah.
Kurang lebih 5 menit Melani telah ber-’karaoke’ terhadap penis saya. Kemudian Melani dengan sigapnya melepas seluruh baju, celana dan pakaian dalamnya.
“Nah, sekarang loe baru boleh sentuh gue..!” kata Melani.
Maka karena dari tadi saya sudah menahan mau nyentuh dia tapi tidak boleh, maka kesempatan ini tidak saya sia-sia kan. Langsung saja saya rebahkan Melani di ranjang dan gantian saya ciumi bibirnya, dan Melani juga membalasya dengan tidak kalah ganasnya. Kemudian saya turuni ciuman saya ke daerah lehernya. Hmm, lehernya yang bersih itu saya ciumi dan saya jilati. Samar-samar saya mendengar Melani mulai mendesah.
Kali ini saya turun ke buah dadanya, saya menjilati dulu pinggirnya secara bergantian, dari kanan ke kiri. Tetapi saya tidak menyentuh sedikit pun putingnya Melani.
Dan Melani kemudian bicara, “Ayo donk isepin puting gue, please..!”
“Wah ini saatnya balas dendam nih..!” pikir saya dalam hati.
“Hah..? Loe minta diisepin puting loe, sabar yach sebelum gue mood, gue ngga bakal isep puting loe..!” jawab saya sambil tersenyum.
Saya lihat Reffa juga ikut tersenyum melihat temannya terkapar pasrah.
Tidak lama setelah saya memainkan buah dadanya, saya turun ke vaginanya. Tampaklah bulu-bulu vagina Melani yang begitu halus dan dicukur rapih. Dengan sigap saya langsung menghisap vagina Melani.
“Ohh.., ohh.., enakk..! Terusin donk Sayang..!” sahut Melani sambil mendesah.
Kalimat itu membuat saya tambah semangat, maka saya tambah liar untuk menghisap vaginanya.
“Sayang, aku mau keluar,” lirih Melani.
Dan tiba-tiba saja cairan vagina Melani keluar diiringin teriakan dari Melani yang kemudian saya telan semua cairan vagina Melani.
“Duh Say, kamu kok hebat sih maenin memekku..?” tanya Melani.
Yang saya lakukan hanya tersenyum saja.
“Please donk, masukin punya kamu sekarang..!” pinta Melani dengan memelas.
“Nanti dulu, puting kamu belum gue hisap..!” jawab saya.
Maka dengan cepat langsung puting yang berwarna coklat muda itu saya hisap dengan kencanganya secara bergantian, kiri dan kanan.
“Ahhh, enakk Sayang, terusin..! Tambah kenceng donk..!” teriak Melani.
Hmm, mendengar suara cewek lagi terangsang begitu membuat saya tambah horny lagi, apalagi si ‘adik’ sudah dari tadi menunggu giliran ‘masuk’. Maka langsung saja saya memasukkan penis saya ke vaginanya.
“Shit..! Sempit banget nih memek..!” pikir saya dalam hati.
Setelah sedikit bersusah payah, akhirnya masuk juga barang saya ke vaginanya.
“Gila bener Melani, barang loe enak dan sempit banget sih..?” jawab saya dengan napas yang mulai tidak teratur.
Dan kalimat saya dibalas dengan senyum oleh Melani yang sedang merem melek.
Begitu masuk, langsung saya goyangkan. Yang ada hanya suara Melani yang terus mendesah dan teriak.
“Ahhh terus Sayang, tambah cepet donk..!”
Dan sekilas di samping saya tampak Reffa sedang meremas-remas buah dadanya sendiri.
“Sabar Reff, akan tiba giliran loe, sekarang gue beresin dulu temen loe ini..!” jawab saya sambil sambil menggoyangkan Melani.
Reffa hanya dapat menganggukan kepala, soalnya dia tahu ini bagian dalam permainan yang mereka buat, jadi Reffa juga tidak boleh ikut sedikit pun dalam permainan saya dan Melani.
Tidak lama kemudian Melani minta gantian posisi, kali ini dia mau di atas.
“Gue cepet keluar kalo di atas..!” katanya santai.
Kami pun berganti posisi. Berhubung Melani tadi sudah keluar, maka kali ini ketika kami ‘main’ vagina Melani sudah becek.
“Ahh.., enakk.., barang lo berasa banget sih..!” jawab Melani sambil merem melek.

BACA JUGA : RENY KETAGIHAN DIPERKOSA

5 menit kemudian Melani teriak, “Ahh.., gue keluar lagi..!” dan dia langsung jatuh ke pelukan saya.
Tetapi saya kan belum keluar, wah tidak begini caranya nih. Ya sudah akhirnya saya gantian dengan gaya dogy.
Kali ini kembali Melani menjerit, “Terusiin Sayang..!”
Tidak lama kemudian saya merasa kalau saya sudah mau keluar.
“San, mau keluarin dimana..?” tanya saya.
“Di muka gue aja.” jawabnya cepat.
Kemudian, “Croott.., crott..!” sperma saya saya keluarkan di wajah Melani.
Kemudian Melani dengan cepat membersihkan penis saya, bahkan saya saja sampai ngilu dengan hisapannya. Tidak lama saya pun jatuh lemas di sampingnya. Dan saya tetep melihat Reffa tetap meremas dadanya dan dia pun melihat saya dengan tatapan ingin mendapat perlakuaan yang sama seperti temannya.
“Reff, ke kamar mandi dulu yuk, gue mau bersih-bersih nih..!” jawab saya sambil mengajak Reffa.
Kemudian Reffa dengan cepat menarik saya ke kamar mandi. Di kamar mandi kami saling membersihkan satu sama lain.
“Reff, gue istirahat dulu yach, gue cape banget soalnya,” timpal saya dengan suara lemas tapi penuh dengan kebahagiaan.
“Ok deh, tapi jangan lama-lama yach, gue udah ngga tahan nih..!” jawab Reffa sambil membersihkan penis saya.
Tidak lama kemudian Melani masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, saya dan Reffa kemudian keluar dari kamar mandi. Begitu sampai di ranjang, tiba-tiba saja Reffa mencium saya dengan ganasnya. Secara otomatis pula saya membalasnya. Kemudian ciuman Reffa mulai turun ke leher saya dan dada saya. Saya hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Dada saya diremas-remas oleh Reffa dan sapuan lidahnya mulai turun ke daerah bawah.
“Hmm.., barang loe bakal gue paksa berdiri lagi nih..!” kata Reffa dengan suara menggoda.
Kemudian tanpa diperintah Reffa segera mencium dan mengulum penis saya dengan lahapnya seperti orang yang kelaparan.
“Ahh.. ahh.. ahh.., enak Reff..!” timpal saya.
Sekilas saya melihat Melani baru keluar dari kamar mandi dan sedang memakai bajunya.
“Loe ngga mau ikutan lagi Melani..?” tanya saya.
“Ngga ah, gue lemes banget, gantian loe urus temen gue aja deh, gue mau istirahat dulu,” jawabnya santai.
Kemudian saya tidak mau kalah, segera saya raih buah dada Reffa dan segera saya hisap. Saya mulai dari putingnya yang kanan, kemudian beralih ke yang kiri, saya remas-remas juga dadanya.
“Ahh, yang kenceng Sayang..!” jawab Reffa lirih.
Kurang lebih 5 menit saya memainkan dadanya, kemudian saya turun ke vaginanya. Tampaklah vagina Reffa ditumbuhi bulu-bulu halus yang rapih itu sudah tampak basah.
“Hmm.., udah basah loe Reff, dah ngga tahan yach..?” kata saya sambil tersenyum.
Reffa hanya menangguk saja tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Kemudian saya mendekatkan mulut saya ke depan vagina Reffa, dan langsung saya hisap dan saya jilat vaginanya.
“Ohh.., ohh.., teruss..! Enak..!” itulah suara yang terdengar dari mulut Reffa.
Setelah 10 menit saya memainkan vaginanya, saya ingin melakukan gerakan lebih jauh. Dan dengan segera saya memasukkan penis saya ke dalam vagina Reffa.
“Hmm, pelan-pelan yach..!” jawab Reffa.
Saya hanya tersenyum dan segera mencium Reffa, dan dia pun membalasnya dengan penuh semangat.
Blesss, seluruh penis saya kini berada di dalam vagina Reffa. Dan tanpa dikomando lagi saya segera bergerak diikuti goyangan pinggul Reffa. Tanpa sadar Reffa memeluk saya begitu eratnya dan saya memperhatikan wajah Reffa yang sedang merem melek seakan-akan tidak ingin berhenti memperoleh kenikmatan.
5 menit kemudian Reffa ingin berganti posisi.
“Eh, gantian dogy yuk..!” pinta Reffa.
Ya sudah, saya turuti saja kemauan Reffa.
“Bless, bless.., bless..!” sedikit terdengar suara penis dan vagina yang sedang berlomba, karena vagina Reffa sudah basah dan menurut saya Reffa tidak lama lagi akan keluar.
Dan benar saja dugaan saya, tiba-tiba saja Reffa teriak, “Ah.., ahh.., ahh.., gue keluar..!”
Kemudian Reffa langsung jatuh lemas dengan posisi telungkup, sementara penis saya masih tertancap dalam vagina Reffa. Maka saya segera menggerakkan penis saya supaya saya juga dapat keluar. Tidak lama saya terasa bahwa saya ingin keluar.
“Keluarin di mana Reff..?” tanya saya.
“Di dalam ajalah, biar loe enak..!” jawabnya dengan suara yang terbata-bata.
Lalu, “Crott, crott..!” penis saya segera mengeluarkan semburan spermanya.
“Ahh..!” saya bersuara dengan keras, “Enak banget..!” lanjut saya.
Kemudian saya langsung rebah di sebelah kanan Reffa, sementara Melani sedang tersenyum memperhatikan kami berdua.
“Wah-wah-wah, cape loe yach berdua..?” kata Melani.
Saya yang sudah lemas hanya dapat tersenyum dan tiduran di samping Reffa.
Setelah istirahat beberapa menit, kemudian saya dan Reffa ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu kami bertiga pulang ke rumah masing-masing dengan membawa kenangan indah bersama. Nah, nantikan cerita saya di periode berikutnya, mohon para pembaca memberi saran dan komentar terhadap cerita saya.

By adminmarket

Selamat datang di ASUPAN CERITA DEWASA — tempat di mana fantasi liar, hasrat terpendam, dan kenikmatan tersembunyi dituangkan dalam cerita yang membakar imajinasi. Di sini, setiap cerita bukan hanya soal tubuh, tapi tentang permainan emosi, godaan, dan rasa penasaran yang memuncak perlahan… hingga tak terbendung. Dari ibu kost yang menggoda, tante yang tak tahu malu, sampai kisah-kisah rahasia di balik pintu kamar — semuanya kami sajikan dengan detail yang akan membuatmu sulit berhenti membaca. Kamu siap? Jangan cuma bayangkan. Rasakan lewat kata-kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *